Karya : SITI RAHMAH
CINTA WAKTU
SMP
Aku hidup bukan
untuk menunggu cintamu. Sulit ku terima semua keputusan itu. Yang kini hilang
tersapu angin senja. Masih sulit pula untuk ku lupakan. Suram dan seram jika ku
ingat kembali. Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu, agar abadi oleh
sang waktu.
Pagi ini cerah,
hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk
menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku . Seusai sekolah, ada
ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum beranjak dari
tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.
“Ayuuuu, tunggu !!! Aku pun melihat ke
belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku penasaran.
“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !” ,“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni
tarinya”, “Ya telat dikit kan gak papa”. Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas
pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan kata-kata Raffi tapi aku tidak
memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.
Hari ini aku sengaja berangkat
pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak antara rumah dan sekolah
dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan kata-kata Raffi kemarin
siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan
di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya. “Hey hey,
mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku. “Ha? Aku gak
mikirin apa-apa tuh!” “Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata
Raffi kemaren?” “Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi trus kalian ngejek
gitu, ahh gak asyiik”. “Yaya, Cuma bercanda kok”
Tiba-tiba Raffi datang menemuiku.
Entah apa lagi yang akan ia sampaikan kembali.
Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.“Yu,
ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi. “Ahh,
engga ahh, biarin aja dia samperin” “Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh,
kok malah kamu sia-siain” Ucapan Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara
Raffi. “Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak
bilang-bilang?” “Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain” Bel masuk kelas pun
berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung
hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, karena jarak rumah ke
sekolah deket. “Ciiye Ayuu” goda Layla. “Ada apa sih?” tanyaku penasaran. “Tuh,
orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang mau
ketemu kamu.” “Ha? Siapa dia? Namanya siapa?” “Dia Reza, anaknya pendiem
banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”
Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang,
dalam perjalananku aku memikirkan semua hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Reza,
aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temennya?
Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.
Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak
yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar Reza, padahal bukan sama sekali. Aku
kenal sama dia aja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk
menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh hati pada
Reza, “ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh” kata itu selalu
muncul di benakku.Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu
melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh
mungkin inikah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya
lagi untuk saat ini.
Setelah kita kenal begitu lama,
aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun diantara kita tak pernah ada
satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti
apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu,
tapi aku tidak pernah percaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku
juga, aku hanya berharap begitu banyak.
Hari
ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Reza mau bicara tapi dia tetap tidak
mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin
bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi
ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku. Malam
ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon
itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti
mengerti disetiap mimpi dan harapanku. Setelah selesai aku pun tidur. Hari ini
aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku juga ingin melihatnya lebih awal,
hehe.
Aku datang pertama di sekolah,
datang pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah
selesai, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk
apapun akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang
mengetuk pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk
menemuinya. Aku yang bingung, langsung saja aku menurut. “Nich surat dari Reza !” kata Imma sambil
memberikan surat dari Reza.“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?” “Iyaa, baca
aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia gak
bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.” “Iyaa, makasiih udah ngaterin
suratnya, aku titip salam buat dia” Seketika aku menangis, air mata ini sudah
tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku. Lalu ku hapus
lagi begitu pun seterusnya.
Aku masuk kelas
dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua
tidak pernah terjadi. “Ada apa sih, Yu ?” Tanya Ega.“Di.. dia.. dia udah jawab
semuanya” kataku terbata-bata “Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak
pernah ada apa-apa?” “Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang
nganter harus Imma, dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang
nganter?” “Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu
gak Cuma satu kok, gak Cuma dia doang” “Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil
mengusap air mataku “Iya sama-sama”Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun
kita hanya sebatas gebetan, tapi ternyata hal itu membuat kita menjadi
bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban
itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya pasrah, aku menangis, bagaimana
tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata telah membuatku menangis. Aku
berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita
bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu
menjadi sebuah kenangan masa SMP kita.
*THE END*